Elang sudah enam bulan menjaga mercusuar Pulau Besar sendirian. Bukan nama yang tepat untuk pulau yang ukurannya tidak lebih dari lapangan sepak bola dengan sedikit tanah lebih — tapi nama itu sudah ada sebelum Elang lahir dan akan ada setelah dia pergi. Tugasnya sederhana: pastikan lampu mercusuar menyala setiap malam dari pukul enam sore sampai enam pagi. Tidak ada yang bilang pekerjaan itu mudah. Tapi tidak ada yang bilang malam ini akan seperti ini.
Generator pertama mati pukul delapan malam. Elang langsung ke generator cadangan — kondisinya sudah dia periksa minggu lalu, semua baik. Tapi ketika dia starter, mesinnya berputar dua kali dan berhenti. Bau karet terbakar. Sesuatu di dalam sudah tidak bisa diperbaiki dengan apa yang ada di gudang pulau kecil ini.
Lampu mercusuar padam. Dan di kejauhan, melalui jendela yang diguyur hujan, Elang bisa melihat lampu-lampu kecil bergerak di atas air — kapal yang menuju ke arah ini, yang tidak tahu ada batu karang tujuh ratus meter dari pulau yang tidak terlihat di malam segelap ini.
Ada momen ketika kamu tahu persis apa yang harus dilakukan dan persis betapa sulitnya melakukannya. Dan tetap harus dilakukan.
Elang tidak punya waktu untuk panik. Dia berlari ke gudang, mengambil semua lampu darurat yang ada — empat buah, baterainya penuh. Naik ke puncak mercusuar dengan satu tangan memegang railing karena anginnya sudah sampai di kecepatan yang membuat berdiri lurus saja butuh usaha.
Empat lampu darurat tidak bisa menggantikan mercusuar. Tapi mungkin cukup untuk dilihat.
Elang menyalakan semuanya, memegang dua di setiap tangan, mengayunkannya sekuat yang dia bisa ke arah kapal yang lampunya semakin dekat. Angin mendorongnya ke segala arah. Hujan menusuk wajahnya. Tangannya sudah mati rasa setelah sepuluh menit.
Lampu kapal itu tidak berubah arah. Elang terus mengayunkan. Lima belas menit. Dua puluh menit. Tangannya kram tapi tidak bisa berhenti.
Lampu kapal itu akhirnya berubah arah — memutar ke selatan, menjauhi batu karang. Elang melihatnya dari puncak mercusuar sambil berlutut karena kakinya tidak bisa menopang lebih lama.
Dia duduk di sana sampai badai mereda menjelang subuh, dengan empat lampu darurat yang baterainya hampir habis, tangan yang memar dan kaku, dan perasaan yang tidak bisa dia namakan tapi yang terasa seperti gabungan antara sangat lelah dan sangat lega dan sedikit bangga dan sangat ingin pulang ke daratan.
Laporan insiden yang dia tulis keesokan harinya singkat dan faktual — generator mati, tindakan darurat dilakukan, kapal berhasil dialihkan. Tidak ada kata-kata tentang betapa dinginnya malam itu, atau betapa lama dua puluh menit ketika tangan kamu mati rasa dan anginnya mencoba melempar kamu dari puncak menara.
Tapi ada satu kalimat terakhir yang dia tambahkan, yang tidak ada di protokol resmi manapun:
Lampu harus tetap menyala. Dengan cara apapun yang mungkin.