Pohon beringin di alun-alun Kota Madya itu tidak ada di buku sejarah manapun, tapi orang-orang tua kota itu bisa bercerita tentangnya dengan cara yang membuat jelas bahwa pohon itu sudah ada sebelum ingatan tertua yang pernah didengar. Diameternya perlu empat orang dewasa untuk memeluknya. Akar-akarnya sudah menjadi bagian dari trotoar — tonjolan abu-abu yang sudah dicat kuning sebagai penanda biar orang tidak tersandung, yang entah kapan jadi landmark tersendiri. Dan minggu depan, berdasarkan keputusan dewan kota, pohon itu akan ditebang untuk melebarkan jalan.
Berita itu menyebar dengan cara yang tidak ada yang mengatur. Tiba-tiba saja, setiap hari ada orang yang datang ke alun-alun dan duduk di bawah pohon itu — bukan dalam jumlah besar yang dramatis seperti demonstrasi, hanya orang-orang yang datang sendiri-sendiri atau berdua, duduk sebentar, lalu pergi.
Pak Rudi, tujuh puluh tahun, mantan guru SD, datang setiap pagi karena pohon itu yang menaungi dia dan istrinya ketika pacaran empat puluh tahun lalu dan istrinya sudah tidak ada untuk diajak kembali ke sini bersama.
Dinda, dua puluh tiga tahun, mahasiswi arsitektur, datang dengan sketsa book dan menggambar pohon itu dari setiap sudut yang bisa dia temukan karena tugas kuliahnya tentang elemen kota yang tidak bisa diganti adalah tentang ini, tapi lebih dari itu karena pohon ini sudah ada lebih lama dari apapun di kota ini dan itu saja sudah cukup alasan untuk digambar.
Ada hal-hal yang nilainya bukan dari fungsinya tapi dari kehadirannya. Dari cara hidupnya mengisi ruang. Dari bayangan yang sudah mengayomi terlalu banyak cerita untuk dihitung.
Malam sebelum penebangan dijadwalkan, ada sekitar dua puluh orang yang duduk di bawah pohon itu sampai hampir tengah malam. Tidak ada orasi, tidak ada spanduk. Hanya duduk. Beberapa berbicara pelan, beberapa diam, beberapa hanya memandang ke atas ke cabang-cabang yang sudah menaungi siapapun yang perlu ternaungi selama entah berapa puluh tahun.
Pak Rudi bercerita tentang istrinya. Dinda menunjukkan sketsanya ke orang di sebelahnya yang ternyata juga arsitek, lebih senior, yang punya cerita berbeda tentang pohon yang sama. Seseorang membawa termos kopi dan membagikannya tanpa diminta. Seseorang lain membawa radio kecil yang memutar lagu lama pelan-pelan.
Penebangan tidak jadi dilakukan. Bukan karena demonstrasi besar, bukan karena tekanan politik. Tapi karena laporan teknis yang baru masuk menunjukkan bahwa akar pohon itu sudah terlalu dalam dan lebar untuk ditebang tanpa risiko merusak pipa air bawah tanah yang lebih mahal dari lebarnya jalan yang mau ditambah.
Pohon itu tetap ada karena alasan pragmatis. Tapi orang-orang yang duduk di bawahnya malam sebelumnya tidak peduli alasannya.
Pak Rudi datang seperti biasa keesokan paginya. Duduk di akarnya yang sudah biasa dia duduki. Memandang ke atas ke cabang-cabang yang sama.
"Masih di sini," katanya pelan, ke tidak ada yang spesifik.
Pohon itu, seperti biasa, tidak menjawab. Tapi bayangannya tetap jatuh di tempat yang sama. Dan itu sudah cukup.