Tiga orang yang tidak saling kenal bermimpi hal yang persis sama selama tujuh malam berturut-turut. Pertama: Laras, guru SMP di Bandung yang tidur lebih awal dari kebanyakan orang karena jam kerjanya dimulai pukul enam. Kedua: Bram, programmer lepas di Surabaya yang justru tidur terlalu larut dan bermimpi di jam-jam terakhir sebelum subuh. Ketiga: Nenek Wati, tujuh puluh tahun, di sebuah desa di Jawa Tengah yang tidak pernah menggunakan internet dan tidak akan pernah tahu tentang Laras atau Bram.
Sebuah rumah tua. Gaya kolonial, cat putih yang sudah mengelupas di sudut-sudutnya. Halaman depan dengan pohon mangga yang lebih besar dari pohon mangga yang pernah ada di dunia nyata. Dan pintu merah — satu-satunya warna yang jelas di seluruh mimpi yang selain itu terasa seperti foto hitam putih yang sedikit kabur.
Di depan pintu merah itu, seseorang berdiri memunggungi mereka. Tingginya rata-rata, pakaiannya tidak jelas warnanya, dan tidak pernah berbalik. Tidak peduli berapa lama mereka mendekatinya di dalam mimpi — sosok itu selalu berjarak sama, selalu memunggungi, dan ketika mimpi berakhir sosok itu masih di sana, masih menghadap pintu merah, masih belum berbalik.
Mimpi yang sama bukan berarti pikiran yang sama. Tapi mungkin berarti ada sesuatu yang lebih besar dari pikiran yang sedang bicara kepada ketiganya.
Laras cerita ke suaminya di malam keempat. Suaminya bilang itu stres kerja yang terproyeksikan. Mungkin. Tapi Laras punya perasaan bahwa rumah di mimpi itu bukan metafora — itu tempat yang nyata. Dia tidak bisa menjelaskan kenapa, hanya tahu bahwa cara debu di lantai ruangannya terasa di bawah telapak kakinya terlalu spesifik untuk sekadar imajinasi.
Bram tidak cerita ke siapapun. Tapi dia mulai menulis detail mimpinya setiap pagi — ukuran jendelanya, suara kayu lantai, arah angin yang bisa dia rasakan meskipun dalam mimpi. Di malam keenam dia menggambar denah rumah itu dari memorinya dan merasa yakin bahwa bangunan seperti ini pernah ada di suatu tempat.
Nenek Wati tidak menceritakan mimpinya tapi berdoa setelah setiap subuh sejak malam pertama. Bukan karena takut — karena ada rasa bahwa mimpi itu adalah pesan, dan pesan perlu disambut dengan ketenangan, bukan kecemasan.
Di malam ketujuh, untuk pertama kalinya sejak mimpi itu dimulai, sosok di depan pintu merah itu bergerak. Tidak berbalik — hanya mengangkat tangan dan meletakkannya di gagang pintu.
Laras terbangun sebelum pintu itu dibuka. Bram juga. Nenek Wati satu-satunya yang tidur sampai subuh dan masih bermimpi ketika adzan berkumandang dan mimpi itu memudar sebelum dia bisa melihat apa yang ada di balik pintu merah.
Mereka bertiga tidak pernah saling kenal. Tidak pernah bertukar cerita. Masing-masing menyimpan tujuh malam itu sebagai sesuatu yang milik mereka sendiri — sesuatu yang tidak perlu penjelasan, hanya perlu diterima sebagai bagian dari hal-hal yang terjadi kepada manusia yang tidak selalu punya nama.
Tapi malam kedelapan, ketiganya tidur dan tidak bermimpi tentang rumah itu. Seperti sesuatu sudah selesai — atau sesuatu sudah dimulai. Mereka tidak tahu yang mana. Dan mungkin memang tidak perlu tahu.