๐ŸŒฟ
๐Ÿƒ
๐ŸŒฟ
๐Ÿƒ
๐ŸŒฟ
Petualangan ยท Alam

Rimba Tanpa Peta

Ketika arah hilang, insting yang memimpin
โœฆ

Farhan tidak pernah berencana untuk tersesat. Tidak ada orang yang berencana untuk itu. Namun di sinilah dia โ€” berdiri di antara pohon-pohon raksasa yang batangnya lebih besar dari pelukannya, dengan sinyal HP yang sudah lenyap sejak tiga jam lalu dan matahari yang perlahan-lahan bersembunyi di balik kanopi hijau gelap di atasnya.

Awalnya hanya sebuah jalan pintas. Teman-temannya memilih jalan resmi yang memutar panjang mengelilingi bukit, tapi Farhan sudah membaca peta topografi area itu semalam dan yakin ada lintasan langsung yang bisa memotong waktu hampir dua jam. "Gue nyusul," katanya enteng, melempar senyum dan lambaian tangan sebelum menghilang ke balik semak.

Tiga puluh menit pertama terasa sempurna. Hutan belukar membuka jalan seakan menyambut, tanah lembap berbau daun busuk dan jamur yang aneh-anehnya menenangkan, dan Farhan berjalan dengan langkah panjang penuh keyakinan. Sampai pohon-pohon mulai terlihat sama. Sampai jalan setapak yang dia ikuti berakhir di tepi sebuah sungai kecil yang tidak ada di peta mana pun yang pernah dia baca.

โ€” Sore โ€”

Farhan duduk di atas batu berlumut di tepi sungai itu, mengeluarkan isi tasnya satu per satu. Satu botol air mineral yang sudah setengah habis, dua batang cokelat, kompas analog pemberian ayahnya yang tidak pernah benar-benar dia pelajari cara pakainya, dan poncho hujan. Itu saja.

"Kompas menunjukkan utara. Bagus. Sekarang di mana itu utara, dan kenapa gue harus peduli?"

Suara sungai mengalir tenang menemani kebodohannya. Di kejauhan, seekor burung berteriak โ€” suara melengking panjang yang terasa seperti tawa. Farhan mendongak ke langit yang terlihat melalui celah kanopi. Matahari sudah condong ke barat.

Dia ingat satu hal yang pernah dibaca di suatu buku survival: ikuti aliran sungai ke bawah, selalu menuju pemukiman. Entah itu mitos atau fakta, tapi itu satu-satunya rencana yang dia punya sekarang. Farhan mengambil botol airnya, minum sedikit, lalu berdiri mengikuti arus sungai yang mengalir ke selatan.

โ€” Menjelang Gelap โ€”

Satu jam berjalan, kaki Farhan sudah basah sampai lutut karena terpaksa menyeberang dua kali. Tapi di sinilah keberuntungan itu muncul โ€” bukan dalam bentuk penyelamatan dramatis atau helikopter pencari, melainkan dalam bentuk asap tipis yang mengepul di antara pepohonan sekitar lima ratus meter di depannya.

Api unggun. Seseorang ada di sana.

Ternyata seorang kakek tua, pencari daun obat, yang setiap minggu masuk ke hutan ini dan hafal setiap lekuk tanahnya seperti hafal wajah anak sendiri. Pak Soma namanya. Dia menatap Farhan yang muncul dari balik semak dengan tampang basah kuyup dan napas tersengal-sengal, lalu tertawa pelan.

"Nyasar?" tanyanya tanpa basa-basi.

"Iya, Pak."

"Jalan pintas?"

Farhan mengangguk malu.

Pak Soma menggeleng pelan sambil menyodorkan mangkuk berisi air jahe panas yang entah dari mana munculnya. "Hutan ini tidak kenal jalan pintas. Dia kenal orang yang mau mendengarkan."

Farhan tidak sepenuhnya mengerti maksudnya malam itu. Tapi ketika Pak Soma mengantar dia keluar hutan dua jam kemudian โ€” melewati jalan berliku yang terasa dua kali lebih panjang dari yang Farhan bayangkan tapi entah kenapa terasa benar โ€” dia mulai sedikit paham. Ada perbedaan antara membaca peta dan mengenal medan. Ada perbedaan antara tahu dan benar-benar tahu.

Dan kadang, yang dibutuhkan bukan rute yang lebih cepat. Tapi seseorang yang sudah berjalan lebih dulu.

โˆŽ โˆŽ โˆŽ