Rania memesan kamar nomor 312 di Hotel Abadi melalui aplikasi, membayar dengan kartu, dan check-in pukul 23.14 malam itu. Resepsionis — seorang pria muda dengan lingkaran hitam di bawah matanya — menyerahkan kunci fisik berbentuk kartu magnetik tanpa banyak bicara. Hanya satu kalimat:
"Jangan lewat lift di ujung lorong kanan, Mbak. Sedang perbaikan."
Rania mengangguk dan tidak terlalu memikirkannya. Dia wartawan lepas yang sudah menginap di puluhan hotel lebih buruk dari ini. Kamar 312 terletak di ujung lorong lantai tiga, bersih, dengan jendela menghadap area parkir yang remang. Lumayan.
Suara ketukan itu yang pertama kali membangunkannya. Tiga ketukan pendek. Rania berbaring diam, menunggu. Ketukan itu datang lagi — kali ini dari arah yang aneh. Bukan dari pintu. Dari dalam dinding di sisi kiri ranjang.
Rania menyalakan lampu tidur. Dinding itu masif, polos, cat putih kusam. Tidak ada yang bisa berada di baliknya karena di peta hotel yang dia lihat di balik pintu, sisi itu adalah... luar ruangan. Tidak ada kamar bersebelahan di sisi kiri nomor 312.
Dia mencatat ini di buku kecilnya — kebiasaan lama — dan mencoba tidur lagi.
Terbangun kedua kali bukan karena suara, melainkan karena bau. Bau kertas tua dan tinta yang kuat, seperti berada di dalam perpustakaan yang sudah lama tidak dibuka. Rania duduk di tepi ranjang dan memandang ke sudut kamar.
Di bawah pintu, ada selembar kertas. Baru saja diselipkan masuk — tepinya masih menonjol ke dalam kamar.
Tanda tangan itu satu huruf. R. Inisial namanya sendiri.
Rania berdiri, membuka pintu cepat. Lorong kosong, pencahayaan kuning pucat, karpet motif kotak-kotak yang kelelahan. Tidak ada siapa-siapa. Tapi di ujung lorong kanan — yang lift-nya katanya sedang perbaikan — pintunya terbuka sedikit. Celah hitam tipis memanjang vertikal, dan dari dalamnya keluar cahaya merah yang sangat redup.
Sebagai jurnalis, Rania punya dua insting yang sering berselisih: kabur dan selidiki.
Dia memilih yang kedua.
Lift itu bukan sedang diperbaiki. Lift itu berfungsi sempurna — lebih sempurna dari lift utama yang berderit setiap dibuka. Interior dalamnya dilapisi panel kayu mahoni tua, cermin oval di tiga sisi, dan panel nomor lantai yang menampilkan angka-angka dari B2 sampai 12. Dua belas lantai. Tapi dari luar, hotel ini hanya terlihat sebelas lantai tingginya.
Rania menekan angka 4.
Lift bergerak naik tanpa suara.
Lantai empat berbeda dari lantai tiga dengan cara yang sulit dijelaskan. Bukan tampilannya — lorong dan karpet dan dinding semuanya identik. Tapi udaranya lebih dingin tiga derajat dan semua nomor kamar diawali angka 4: 401, 402, 403. Dan di ujung lorong, sebuah pintu tanpa nomor. Hanya plakat tembaga dengan tulisan tangan: Arsip.
Di dalam kamar itu, tidak ada ranjang, tidak ada lemari. Hanya dinding-dinding yang dipenuhi dari lantai hingga langit-langit dengan ribuan lembar kertas — foto, artikel koran, catatan tangan, peta, tiket perjalanan — semuanya terhubung dengan benang merah yang kusut. Dan di tengah semuanya, sebuah foto Rania. Dicetak besar, diambil malam tadi di lobi, tanpa dia sadari.
Di bawah foto itu, sebuah keterangan ditulis dengan spidol merah tebal:
Orang ketujuh yang menemukan ruangan ini dalam tiga puluh tahun terakhir. Selamat datang di tim kami.
Dan di sudut ruangan, ada enam buku catatan dengan nama-nama berbeda di sampulnya. Rania mengambil yang terakhir, membuka halaman pertama, dan membaca tulisan tangan yang sangat rapi:
Mulailah dari lift. Lift tidak berbohong.
Rania tidak pernah check-out dari Hotel Abadi. Setidaknya, tidak pada waktu yang dia rencanakan. Tiga minggu kemudian, ada buku catatan ketujuh di sudut ruangan itu. Dengan nama yang tertulis rapi di sampulnya: Rania Aulia — 2024.
Dan di halaman pertama, tulisan tangannya sendiri:
Mulailah dari lift. Lift tidak berbohong.