Arsyad selalu datang ke tempat ini pada jam yang sama — pukul setengah enam sore, ketika langit mulai berganti warna seperti seseorang yang sedang mencari kata yang tepat untuk mengakhiri percakapan panjang. Bukit kecil di ujung jalan desa itu tidak istimewa. Tidak ada pemandangan dramatis, tidak ada pohon besar yang bersejarah. Hanya hamparan tanah berumput dan cakrawala yang bisa dilihat tanpa penghalang, dan angin sore yang selalu datang dari arah yang sama.
Dia duduk di batu pipih yang permukaannya sudah halus — bukan karena alam yang menghaluskannya, tapi karena terlalu sering diduduki. Dua orang. Selama bertahun-tahun. Sampai salah satunya berhenti datang.
Arsyad tidak membawa apa-apa hari itu. Tidak ada buku, tidak ada headphone, tidak ada alasan yang bisa dijelaskan ke orang lain kalau tiba-tiba ada yang bertanya kenapa dia duduk sendirian di atas bukit yang tidak istimewa sambil menatap langit yang sedang mati perlahan-lahan menjadi gelap.
Dia hanya duduk. Dan menunggu sesuatu yang sudah dia tahu tidak akan datang.
"Kalau kamu pergi duluan, sisanya cuma ada dua pilihan: ikut pergi atau belajar jalan sendirian."
— sesuatu yang tidak pernah Arsyad ucapkan tapi selalu terasa benar
Namanya Dira. Bukan pacar, bukan keluarga — kata-kata itu terlalu sempit untuk menggambarkan sesuatu yang sudah ada sejak mereka berdua masih hafal rute jalan pulang dari sekolah dasar. Dira adalah orang yang pertama tahu ketika Arsyad tidak baik-baik saja, bukan karena Arsyad bilang, tapi karena Dira hafal perbedaan antara diam-karena-capek dan diam-karena-ada-yang-salah.
Bukit itu milik mereka berdua dalam pengertian yang tidak bisa didaftarkan ke mana-mana. Mereka menemukan tempat itu tanpa sengaja — suatu sore kelas enam, lari dari hujan yang tiba-tiba turun, berlindung di balik lerengnya yang landai. Hujan berhenti. Langit bersih. Dan senja waktu itu begitu merah sampai Dira bilang: "Ini kayak langit marah tapi cantik ya."
Arsyad ingat mengangguk. Ingat langit itu. Ingat suara Dira yang tidak pernah bisa dia tiru di dalam kepalanya sendiri — selalu sedikit berbeda dari aslinya, selalu kurang sesuatu.
Sekarang ingatan itu satu-satunya versi yang tersisa.
Dira pindah dua tahun lalu. Bukan karena bertengkar, bukan karena salah paham yang terlalu besar untuk diselesaikan. Hanya karena hidup bergerak dengan cara yang tidak selalu menanyakan pendapat orang-orang yang terdampak. Orang tua Dira dipindahtugaskan. Koper dikemas. Rumah dikosongkan. Dan suatu pagi yang terasa terlalu biasa untuk momen yang sebesar itu, sebuah mobil berangkat ke kota lain.
Arsyad tidak menangis waktu itu. Tidak tahu kenapa. Mungkin karena tidak percaya benar-benar terjadi. Mungkin karena tubuhnya memilih untuk beku dulu, dan mencairnya nanti — sedikit demi sedikit, selama berbulan-bulan, di waktu-waktu yang tidak terduga. Di tengah kelas ketika guru sedang menerangkan sesuatu. Di warung makan ketika memesan untuk satu orang. Di bukit ini, setiap sore, ketika angin datang dari barat dan dia hampir menoleh ke kiri karena refleks.
Ke arah yang dulu selalu ada orangnya.
Mereka masih berkabar. Sesekali. Chat yang tidak selalu dibalas cepat, video call yang selalu ada lag dan suara yang patah-patah di tengah kalimat penting. Jarak bukan hanya soal kilometer — itu juga soal zona waktu yang sedikit berbeda, jadwal yang tidak lagi sinkron, dan percakapan yang lama-lama terasa seperti dua orang yang sedang berusaha keras menjaga sesuatu yang sudah berubah bentuk tanpa ada yang meminta.
Arsyad tidak menyalahkan Dira. Tidak menyalahkan siapapun. Kehilangan yang paling menyakitkan memang yang seperti ini — bukan yang tiba-tiba dan dramatis, tapi yang berlangsung pelan, yang tidak bisa ditunjuk kapan persisnya berakhir karena tidak pernah benar-benar ada momen penutupnya. Hanya jarak yang semakin lebar tanpa ada yang mengisinya.
Kesepian yang paling berat bukan ketika tidak ada siapapun.
Tapi ketika ada seseorang yang dulu selalu ada — dan kamu tidak tahu kapan tepatnya mereka mulai terasa jauh.
Sore itu angin bertiup lebih kencang dari biasanya. Rumput di sekitar Arsyad bergerak semua ke arah yang sama, seperti sedang menunjuk sesuatu. Langit sudah mulai oranye di barat, ungu tipis di timur — transisi yang berlangsung terlalu cepat kalau tidak diperhatikan, terlalu lambat kalau kamu sedang menunggu.
Arsyad mengeluarkan ponselnya. Membuka nama Dira di daftar kontak. Jempolnya diam di atas layar.
Hei. Lagi apa?
Dia tidak mengirimnya. Menghapus. Mengetik lagi.
Kangen bukit kita.
Dihapus lagi. Terlalu jujur terasa salah. Atau terlalu jujur untuk sesuatu yang sudah tidak bisa diubah.
Akhirnya dia menutup ponsel dan meletakkannya di samping batu. Membiarkan senja itu habis tanpa dokumentasi, tanpa dikirim ke mana-mana, tanpa jadi konten atau kenangan yang dibagikan. Hanya untuk dia. Hanya di sini.
Ada hal-hal yang tidak bisa diajarkan tentang kehilangan. Bahwa rindu bukan sesuatu yang habis kalau dibiarkan. Bahwa ada hari-hari ketika semuanya baik-baik saja sampai tiba-tiba tidak — dan kamu tidak tahu pemicunya apa, hanya tahu tiba-tiba ada sesuatu yang berat di dada dan kamu tidak bisa menjelaskannya ke siapapun karena tidak ada yang cukup salah untuk dikomplain.
Arsyad belajar semua itu sendirian. Di bukit yang sudah terasa berbeda meskipun rumputnya sama, batunya sama, arah anginnya sama. Hanya ada sesuatu yang tidak ada — yang membuat semuanya yang ada terasa kurang.
Matahari akhirnya menyentuh garis cakrawala. Langit jadi merah tua sebentar — merah yang Dira pernah bilang seperti langit marah tapi cantik — sebelum perlahan berubah jadi ungu, lalu biru tua, lalu hampir hitam di ujung timur.
Arsyad mengambil ponselnya lagi. Kali ini tidak membuka kontak Dira. Dia membuka galeri foto — scroll ke belakang, jauh ke belakang, sampai menemukan satu foto yang diambil di tempat ini. Dua tahun lalu. Sudut pengambilan yang payah karena mereka selfie dengan tangan sendiri tanpa tongsis, langit sore yang terlalu terang jadi overexposed, dan dua muka yang tertawa karena sesuatu yang sudah Arsyad lupa apa.
Tapi tawa itu. Tawa itu masih jelas.
Arsyad meletakkan ponsel menghadap bawah di atas batu. Memilih untuk tidak melihatnya lagi malam itu — bukan karena sakit, tapi karena ada hal-hal yang lebih baik disimpan utuh daripada terlalu sering dibuka sampai terasa biasa.
Bintang pertama muncul di atas. Satu. Kemudian dua. Arsyad tidak bergerak.
Tidak ada resolusi yang datang malam itu. Tidak ada momen epifani, tidak ada keputusan besar yang mengubah segalanya. Arsyad hanya duduk sampai gelap, lalu berdiri, lalu berjalan pulang melewati jalan yang sama yang selalu dia lewati — tapi kali ini, tanpa buru-buru.
Kehilangan tidak selesai di satu titik. Itu bukan sesuatu yang kamu pecahkan lalu sudah. Lebih seperti sesuatu yang kamu bawa — yang lama-lama tidak terasa lebih ringan, tapi kamu yang jadi lebih kuat menanggungnya. Dan ada perbedaan antara dua hal itu meskipun dari luar kelihatannya sama.
Di tengah jalan, ponselnya bergetar.
Notifikasi. Dari Dira.
Hei, tadi ngelewatin sunset yang aneh banget di sini. Langit merahnya mirip yang dulu di bukit kita. Inget gak?
Arsyad berhenti di tengah jalan itu. Membaca pesan itu dua kali. Lalu tersenyum — bukan senyum yang besar atau dramatis, hanya senyum kecil yang muncul tanpa direncanakan.
Karena ternyata ada yang sama-sama memperhatikan langit hari itu, dari dua tempat yang berbeda, pada sore yang sama.
Dan mungkin itu cukup. Untuk sekarang. Untuk hari ini.
Arsyad mengetik balasan pelan-pelan, memilih kata dengan hati-hati seperti seseorang yang tahu bahwa beberapa jarak tidak bisa diperpendek tapi bisa tetap terasa dekat kalau ada yang mau berusaha:
Inget. Tadi gue juga lihat dari sana.
Dia kirim. Lalu masukkan ponsel ke saku, dan melanjutkan jalan pulang di bawah langit yang sudah gelap — membawa sesuatu yang berat tapi tidak sendirian menanggungnya.