© 2026 Zulman · ZulStories · zulman.netlify.app · Dilindungi UU No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta ◀ Kembali ke ZulStories Melankolis · Keluarga

Surat dari Loteng

Ada yang tidak pernah terkirim bukan karena tidak ada yang mau membacanya // ZulStories · Rilis 2026 · Karya: Zulman

Hana tidak pernah tahu neneknya bisa menulis sepuitis itu. Selama dua puluh tahun hidupnya, Nenek Sari adalah perempuan yang berbicara sedikit dan melakukan banyak — yang tangannya selalu sibuk, yang matanya selalu ada di tempat yang perlu dijaga, yang tidak pernah terlihat duduk tanpa alasan yang jelas. Tapi di dalam kotak kayu yang Hana temukan di loteng rumah tua itu, tersimpan tujuh puluh dua surat yang membuktikan bahwa ada dunia lain di dalam diri neneknya — dunia yang tidak pernah dibagikan kepada siapapun.

— Loteng —

Kotak itu tersembunyi di balik kardus-kardus lama, dibungkus kain batik yang sudah pudar, dan terkunci dengan gembok kecil yang kuncinya ternyata ada di kalung yang Nenek Sari kenakan setiap hari sampai beliau meninggal tiga bulan lalu. Hana menemukan kunci itu waktu membereskan perhiasan neneknya — sebuah kunci kecil dengan benang merah yang sudah kusam.

Surat-surat itu ditulis di atas kertas yang berbeda-beda. Ada yang bergaris, ada yang polos, ada yang seperti halaman buku yang dirobek. Semua dalam amplop yang sudah ditulisi nama — tapi tidak ada yang pernah dikirim. Perangko ada di beberapa, tapi tidak ada cap pos. Hana duduk di lantai loteng yang berdebu itu dan mulai membaca.

Kepada Ibu yang tidak pernah sempat aku minta maaf — aku tahu kamu tidak salah waktu itu. Aku yang terlalu muda untuk mengerti bahwa pilihan selalu datang dengan yang ditinggalkan.
— Surat Pertama —

Surat-surat itu seperti peta kehidupan yang tidak pernah Hana tahu ada. Ada surat untuk ibunya sendiri yang sudah meninggal sebelum Nenek Sari muda sempat berdamai dengannya. Ada surat untuk seseorang bernama Wahyu — nama yang tidak pernah Hana dengar, tapi cara neneknya menulis nama itu membuat jelas bahwa ada cerita panjang di sana. Ada surat untuk Hana sendiri — ditulis dua tahun lalu.

Hana membuka amplop itu dengan tangan yang sedikit gemetar.

Hana sayang,

Kamu tidak tahu ini, tapi dari semua orang di keluarga kita, kamu yang paling mirip dengan aku waktu muda. Bukan wajahnya — tapi cara kamu diam ketika sebenarnya banyak yang ingin kamu katakan.

Aku belajar terlambat bahwa diam itu bukan selalu bijak. Kadang itu hanya ketakutan yang menyamar.

Kirimkan surat-suratmu, Hana. Apapun isinya. Kepada siapapun yang perlu menerimanya. Jangan tunggu momen yang sempurna — momen yang sempurna tidak pernah datang.

Dengan cinta yang tidak pernah aku cukup tunjukkan,
Nenek Sari
— Sore Itu —

Hana duduk di loteng itu sampai sore. Membaca semua tujuh puluh dua surat. Menangis di beberapa, tersenyum di banyak lainnya, dan di beberapa yang lain hanya diam menatap tulisan tangan neneknya yang rapi dan kecil — tulisan yang tidak pernah dia lihat sebelumnya karena selama ini tidak ada alasan untuk mencarinya.

Ketika dia turun dari loteng, di tangannya ada satu surat — miliknya sendiri, yang ditulis neneknya dua tahun lalu tapi baru sampai hari ini. Dan di kepalanya ada satu keputusan yang terasa seperti sesuatu yang sudah lama menunggu untuk dibuat.

Malam itu, Hana duduk di meja, mengambil kertas dan pena, dan mulai menulis. Kepada orang-orang yang perlu mendengar hal-hal yang selama ini hanya dia simpan dalam diam.

Nenek Sari benar. Momen yang sempurna tidak pernah datang. Tapi malam ini, dengan tujuh puluh dua surat yang tidak terkirim di atas mejanya sebagai pengingat, terasa cukup dekat dengan sempurna.

— T A M A T —
© 2026 Zulman · Surat dari Loteng · ZulStories
Pertama dipublikasikan di zulman.netlify.app · Dilindungi UU No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta Republik Indonesia