© 2026 Zulman · ZulStories · zulman.netlify.app · Dilindungi UU No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta ◀ Kembali ke ZulStories Slice of Life · Perjuangan

Musisi Tanpa Suara

Musik tidak perlu suara untuk didengar // ZulStories · Rilis 2026 · Karya: Zulman

Setiap Jumat malam, Raka membawa gitarnya ke sudut Jalan Pahlawan yang paling ramai dan bermain dari pukul tujuh sampai sembilan. Bukan karena butuh uang — pekerjaannya sebagai desainer grafis cukup menghidupi dia dan kontrakan kecilnya. Bukan juga karena ingin terkenal. Hanya karena ada rasa yang berbeda ketika bermain untuk orang asing yang tidak kenal kamu, tidak punya ekspektasi apapun tentang kamu, dan bisa memilih untuk berhenti atau terus mendengarkan tanpa kamu merasa terluka oleh pilihan mereka.

— Jumat, tiga bulan lalu —

Suaranya hilang mendadak. Bukan sakit tenggorokan biasa — pagi itu Raka bangun dan ketika mencoba bicara, yang keluar hanya udara. Dokter bilang: kondisi langka, tekanan berlebihan pada pita suara, perlu istirahat total selama minimal enam bulan. Tidak boleh bernyanyi. Tidak boleh berbicara lebih dari yang diperlukan.

Raka tidak pernah merasa kehilangan sesuatu sebesar itu sebelumnya. Bahkan lebih dari bicaranya — yang paling menyakitkan adalah suara ketika bernyanyi. Suara yang selama ini adalah bagian paling jujur dari dirinya, satu-satunya medium yang terasa benar-benar miliknya sendiri.

Ada hal-hal yang tidak kamu tahu betapa pentingnya sampai kamu tidak bisa melakukannya lagi.
— Jumat pertama tanpa suara —

Raka tetap pergi ke sudut Jalan Pahlawan. Membawa gitar. Duduk di tempatnya yang biasa. Bermain — tapi kali ini diam. Tidak ada nyanyian, tidak ada kata-kata antara lagu, tidak ada senyum dan sapaan untuk orang-orang yang berhenti sebentar.

Yang mengejutkan: lebih banyak yang berhenti.

Mungkin karena ada sesuatu yang berbeda — permainannya lebih pelan, lebih hati-hati, seperti seseorang yang sedang bicara dengan lebih sedikit kata dan memilih setiap kata dengan lebih teliti. Seorang anak kecil duduk di depannya dan mendengarkan sampai ibunya mengajaknya pergi. Seorang bapak tua berdiri cukup lama, lalu mengangguk sebelum berlalu — anggukan yang terasa seperti penghargaan paling tulus yang pernah Raka terima.

— Jumat keempat —

Seorang perempuan dengan buku catatan duduk tidak jauh dari Raka dan mulai menulis. Raka bermain. Mereka tidak bicara — Raka tidak bisa, dan perempuan itu tampaknya mengerti bahwa kata-kata sedang tidak dibutuhkan.

Di akhir malam, perempuan itu berdiri dan menyodorkan secarik kertas:

"Musik kamu berbeda malam ini dari minggu lalu. Lebih banyak bicara."

Raka membacanya. Mengambil pena dari tasnya dan menulis balik di balik kertas itu: "Saya tidak bisa bicara sekarang. Suara saya hilang."

Perempuan itu membaca. Lalu menulis lagi: "Tapi musiknya tidak hilang."

— Enam bulan kemudian —

Suara Raka kembali — pelan-pelan, seperti sesuatu yang belajar berjalan lagi setelah lama terbaring. Jumat pertama ketika dia kembali bernyanyi di sudut yang sama, beberapa orang yang sudah jadi pendengar tetap selama enam bulan itu berdiri dan mendengarkan.

Raka bernyanyi. Dan menyadari bahwa suaranya — meskipun masih sedikit serak di ujungnya — terdengar berbeda sekarang. Tidak lebih buruk. Hanya berbeda. Seperti sesuatu yang sudah melewati sesuatu dan membawa bekasnya dengan cara yang mengubah bentuknya sedikit, tapi tidak menghancurkannya.

Di barisan pendengar, perempuan dengan buku catatan itu ada. Mengangguk pelan ketika mata mereka bertemu.

Raka mengangguk balik. Dan melanjutkan lagunya.

— T A M A T —
© 2026 Zulman · Musisi Tanpa Suara · ZulStories
Pertama dipublikasikan di zulman.netlify.app · Dilindungi UU No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta Republik Indonesia