Perpustakaan kota itu tutup resmi pada pukul delapan malam. Ada petugas yang mengunci pintu utama, mematikan lampu lorong per lorong, dan memastikan tidak ada pengunjung yang tertinggal di antara rak-rak tinggi yang baunya seperti kertas tua dan kemungkinan. Tapi ada yang tidak pernah dicantumkan di papan pengumuman manapun: pintu samping — yang pintunya sedikit lebih kecil dan catnya lebih pudar dari yang lain — tidak pernah benar-benar terkunci setelah tengah malam.
Fariz menemukan ini karena tidak sengaja. Dia mahasiswa semester akhir yang skripsinya lebih banyak menghantui tidurnya daripada yang dia kerjakan, dan suatu malam ketika jalan melewati perpustakaan pukul satu dini hari dia melihat cahaya tipis dari sela pintu samping itu. Bukan cahaya lampu neon — lebih hangat, seperti lampu baca.
Dia masuk. Karena sifat buruknya yang tidak pernah meninggalkan pertanyaan tanpa dijawab.
Perpustakaan tengah malam berbeda dari perpustakaan siang. Rak-raknya sama, lantainya sama, bau kertasnya sama. Tapi koleksinya — koleksinya berbeda.
Di perpustakaan biasa, kamu mencari buku. Di sini, buku yang menemukan kamu.
Fariz berjalan menyusuri lorong dan menemukan satu buku yang judulnya membuatnya berhenti: Panduan Menyelesaikan Hal yang Kamu Hindari Selama Dua Tahun. Tidak ada nama penulis. Tidak ada penerbit. ISBN-nya rangkaian angka yang tidak masuk akal.
Dia membukanya. Halaman pertama kosong. Halaman kedua juga. Halaman ketiga berisi satu kalimat dalam tulisan tangan yang terlihat seperti tulisannya sendiri: Mulailah dengan bab tiga metodologi. Bukan dari awal.
Fariz menutup buku itu. Meletakkannya kembali. Berjalan ke lorong lain. Di sana ada buku lain — judulnya berbeda tapi entah kenapa isinya terasa seperti melanjutkan yang pertama. Dia duduk di kursi yang tiba-tiba ada di pojok yang dia rasa tadi kosong, dan membaca sampai hampir subuh.
Ada penjaga perpustakaan tengah malam itu. Seorang perempuan muda yang selalu ada di meja referensi tapi tidak pernah menyapa duluan, hanya membantu ketika ditanya. Ketika Fariz bertanya apakah koleksi ini resmi, dia hanya tersenyum.
"Koleksi ini ada untuk yang membutuhkan. Besok malam mungkin berbeda lagi."
"Berbeda bagaimana?"
"Tergantung siapa yang datang."
Fariz keluar menjelang adzan pertama dengan kepala lebih jernih dari beberapa bulan terakhir. Dia tidak membawa buku apapun — tidak ada yang bisa dibawa keluar, entah kenapa terasa jelas bahwa itu bukan aturan yang tertulis tapi yang ada begitu saja. Tapi ada sesuatu yang dia bawa: arah. Cara melihat skripsinya dari sudut yang berbeda, yang tiba-tiba membuat segalanya terasa lebih mungkin.
Tiga minggu kemudian skripsinya selesai. Dia tidak pernah cerita ke siapapun tentang perpustakaan tengah malam itu — bukan karena tidak percaya akan dipercaya, tapi karena ada hal-hal yang lebih baik disimpan sebagai milik sendiri.
Tapi setiap kali melewati perpustakaan kota setelah itu, dia selalu lirik ke pintu samping yang catnya lebih pudar. Dan kadang — hanya kadang — dia melihat cahaya tipis di sela pintunya.