◀ Kembali ke: Kamar 404 — Bagian I Misteri · Horor Ringan // Bagian II — Arsip yang Hidup

Enam
Nama

Sebelum Rania, ada enam orang lain yang menemukan ruangan itu. Ini kisah salah satunya.

Nama di buku catatan pertama adalah Hendrik Soebagio — tahun 1991. Rania membaca buku itu selama dua jam di dalam ruangan arsip yang tidak seharusnya ada itu, duduk di lantai dengan punggung bersandar ke rak penuh kertas, dan semakin jauh dia membaca semakin jelas satu hal: orang-orang yang menemukan ruangan ini tidak datang karena kebetulan. Ada sesuatu yang membawa mereka ke sini.

Hendrik adalah insinyur listrik yang menginap di Hotel Abadi pada Oktober 1991 untuk mengerjakan proyek jaringan listrik kota. Buku catatannya ditulis dengan tulisan tangan yang rapi dan teknis, penuh diagram dan angka — tapi di halaman terakhir sebelum berhenti, ada satu paragraf yang berbeda:

Saya sudah memeriksa sistem kelistrikan lantai ini tiga kali. Tidak ada anomali. Tapi setiap malam pukul 03.00, lampu koridor berkedip dua kali sebelum stabil lagi. Bukan karena fluktuasi arus. Bukan karena komponen yang aus. Berkedip karena ada sesuatu yang menarik daya dari titik yang tidak ada di diagram instalasi manapun yang saya pegang. Besok saya akan cari sumbernya.

Saya menemukannya.

— H. Soebagio, 17 Oktober 1991

Setelah itu, tidak ada tulisan lagi di buku itu. Tapi di sampul dalamnya, seseorang lain — tulisan tangannya berbeda — menambahkan satu kalimat: Hendrik meninggalkan hotel tanggal 18. Tanpa check-out. Tasnya masih di kamar 308.

Rania menutup buku itu pelan-pelan.

// Masih malam yang sama. 04:11.

Dia tidak pergi. Seharusnya dia pergi — setiap insting bertahan hidup yang normal seharusnya mendorongnya keluar dari ruangan ini, turun lift biasa, bayar tagihan, dan tidak pernah kembali ke Hotel Abadi seumur hidup. Tapi Rania adalah wartawan. Dan wartawan yang baik tidak pergi ketika ceritanya baru mulai terbuka.

Buku catatan nomor tiga milik seorang perempuan bernama Lastri — tahun 1998, seorang guru matematika SMP dari Surabaya yang menginap tiga malam untuk menghadiri seminar pendidikan. Tulisannya lebih personal dari Hendrik, lebih seperti diari daripada laporan:

Malam kedua. Saya dengar ketukan dari dalam dinding kamar lagi — persis seperti malam pertama, persis pukul 01.47. Tiga ketukan. Jeda. Tiga ketukan.

Saya guru matematika. Saya percaya pada logika. Jadi saya ketuk balik: tiga kali.

Dari dalam dinding, ada balasan. Lima ketukan.

Saya balas lima. Mereka balas delapan. Saya balas delapan. Mereka balas tiga belas.

Fibonacci.

Saya tidak tidur malam itu. Tapi bukan karena takut.

Lastri akhirnya menemukan ruangan ini di malam ketiga, mengikuti pola ketukan yang semakin jelas mengarah ke lift ujung lorong. Tulisan terakhirnya di buku: Saya rasa ini bukan hantu. Ini sesuatu yang jauh lebih menarik dari itu.

Rania meletakkan buku Lastri dan mengambil yang keenam — yang terbaru sebelum miliknya sendiri. Tahun 2019. Nama di sampulnya: Bagas Pratama.

// 04:47

Bagas adalah fotografer. Buku catatannya lebih tipis dari yang lain — dia lebih banyak mendokumentasikan dengan kamera daripada tulisan — tapi ada satu bagian yang membuat Rania berhenti bernapas sebentar:

Saya sudah menganalisis semua foto yang saya ambil di ruangan ini. Di sudut kiri atas di hampir setiap foto, ada sesuatu yang kamera saya tangkap tapi mata saya tidak lihat waktu mengambilnya.

Bukan bayangan. Bukan artefak lensa.

Sebuah pintu. Kecil. Di balik rak paling kanan, kalau raknya digeser.

Saya tidak berani membukanya sendirian. Kalau ada yang baca ini — buka bersama. Jangan sendirian.

Rania mendongak ke rak paling kanan ruangan itu.

Rak itu besar, penuh dokumen, tapi rodanya — rodanya ada di bawahnya. Dia tidak sadar itu tadi. Rak beroda. Bisa digeser.

Rania berdiri. Berjalan ke sana. Meletakkan kedua tangannya di tepi rak dan menarik pelan-pelan.

Rak bergerak dengan mudah yang tidak wajar untuk ukuran dan beratnya — seakan sudah sering dipindahkan, lintasannya licin karena terbiasa. Dan di balik rak itu, persis seperti yang Bagas tulis, ada sebuah pintu kecil. Cat putih sama seperti dinding, tanpa pegangan, hanya celah tipis yang memisahkannya dari tembok sekitarnya.

Rania berdiri di depannya cukup lama.

Dia ingat tulisan Bagas: jangan sendirian.

Tapi di sini, pukul lima kurang, di lantai yang tidak ada di direktori hotel, tidak ada orang lain.

Tangan Rania bergerak ke arah celah itu — jarinya menyentuh tepi pintu yang tipis, dingin, dan sedikit lembap — ketika dari baliknya terdengar suara. Bukan ketukan. Bukan gemerisik kertas. Suara napas. Seseorang — atau sesuatu — bernapas di sisi lain pintu itu.

Rania menarik tangannya mundur.

Dan dari balik pintu, seperti merespons gerakan itu, terdengar satu suara pelan yang jelas meskipun teredam kayu dan cat:

"Akhirnya."


Buku catatan kedelapan di rak sudut ruangan itu — sampulnya masih kosong, belum ada nama — terbuka di halaman pertama. Menunggu.

— BERSAMBUNG —