Tiga bulan setelah insiden yang memalukan itu, Farhan kembali ke hutan yang sama. Kali ini bukan karena terpaksa, bukan karena kesalahan kalkulasi, dan bukan karena peta topografi yang terlalu dia percayai. Kali ini dia datang karena diajak Pak Soma โ si kakek pencari daun obat yang menyelamatkannya dari kegelapan hutan malam itu โ untuk belajar sesuatu yang tidak bisa dipelajari dari layar laptop atau buku mana pun.
Mereka berangkat pukul lima pagi, ketika embun masih menggantung di ujung rerumputan dan kabut tipis belum sepenuhnya terangkat dari lembah. Pak Soma berjalan di depan dengan langkah yang tidak terburu-buru tapi juga tidak pernah lambat โ ritme yang konsisten seperti mesin jam, seperti napas orang yang sudah sangat terbiasa dengan medannya sendiri.
Farhan mengikuti, kali ini tanpa ponsel di tangan, tanpa earphone, tanpa kebiasaan urban yang biasa menemaninya. Hanya ransel ringan, sepatu yang sudah dicoba di tanjakan sebelumnya, dan telinga yang โ untuk pertama kalinya โ benar-benar terbuka.
"Dengar dulu sebelum melangkah," kata Pak Soma tiba-tiba, berhenti di tengah jalan setapak yang hampir tidak terlihat kalau tidak tahu harus mencarinya.
Farhan berhenti. Mendengarkan. Awalnya yang dia dengar hanyalah keheningan โ atau apa yang dia kira keheningan. Tapi semakin lama dia diam, semakin banyak yang muncul. Suara air mengalir jauh di kiri. Suara daun jatuh berirama karena angin yang tidak terasa dari permukaan tanah tapi jelas di ketinggian kanopi. Suara burung โ bukan satu jenis, tapi berlapis-lapis, masing-masing dari arah berbeda.
"Kamu dengar apa?" tanya Pak Soma.
"Air," kata Farhan. "Di kiri. Dan burung. Banyak."
Pak Soma mengangguk pelan. "Air di kiri artinya kita di punggung bukit sisi timur. Kalau kita turun ke kiri, tiga ratus meter kita sampai di sungai yang kemarin kamu ceritakan nyasar di sana."
Farhan menatap ke kiri. Tidak ada yang kelihatan kecuali pohon dan semak dan bayangan pagi. Tapi begitu dia dengarkan lagi, arah airnya jelas. Itu informasi, pikirnya. Informasi yang selama ini ada tapi tidak pernah dia sadari.
Pak Soma menunjukkan hal-hal yang terlihat biasa tapi bukan. Lumut yang tumbuh lebih tebal di sisi utara batang pohon โ kompas alami yang tidak pernah kehabisan baterai. Arah terbang lebah di sore hari yang selalu menuju sarang, artinya selalu menuju sumber air terdekat. Bentuk tanah yang turun melandai tipis, hampir tidak terasa di kaki, tapi konsisten menunjuk ke lembah.
"Hutan bukan tempat yang diam. Dia terus bicara. Masalahnya, kebanyakan orang datang dengan terlalu banyak suara dari dalam kepala mereka sendiri."
Farhan mencatat ini di buku kecil yang dia bawa. Bukan karena diperintah โ tapi karena tiba-tiba terasa sayang kalau lupa.
Siang itu mereka duduk di dekat sungai yang sama persis di mana Farhan pernah duduk tiga bulan lalu dengan wajah panik dan botol air setengah kosong. Tempat yang sama, tapi terasa sangat berbeda. Batu berlumut yang dulu terasa seperti persimpangan dari mana tidak ada jalan keluar, sekarang hanya terasa seperti tempat istirahat yang nyaman di pinggir aliran yang jernih.
"Pak," kata Farhan sambil melempar kerikil kecil ke air. "Waktu saya nyasar dulu, Bapak langsung tahu saya dari mana?"
Pak Soma tertawa kecil. "Dari arah kamu masuk. Dari cara kamu berjalan โ terlalu lurus, terlalu yakin. Orang yang kenal hutan jalannya zigzag sedikit, mengikuti yang ada. Orang kota jalannya seperti ada garis lurus di depannya."
Farhan tertawa. Itu menggambarkannya dengan sempurna.
Di perjalanan pulang, Pak Soma membiarkan Farhan memimpin. Tidak memberi petunjuk, tidak mengoreksi, hanya mengikuti dari belakang. Farhan merasakan tekanan itu โ tanggung jawab yang berbeda dari sekadar mengikuti โ dan sadar betapa berbedanya dua jenis pengetahuan itu: tahu teori dan tahu caranya.
Dua kali dia hampir salah arah. Pertama saat memilih jalan yang terlihat lebih mudah padahal menurun terlalu curam ke kiri. Kedua saat mengikuti suara air yang ternyata bukan sungai utama tapi anak sungai kecil yang memutar. Kedua kali, dia berhenti sebentar, mendengarkan, dan memilih ulang.
Kedua kali itu benar.
Ketika garis pohon akhirnya membuka ke jalanan desa menjelang magrib, Pak Soma berhenti di tepi hutan dan memandang ke dalam โ ke arah dari mana mereka datang.
"Besok mau kesini lagi?" tanyanya tanpa basa-basi.
Farhan berpikir sebentar. Kakinya pegal. Lengannya tergores di dua tempat karena semak. Bajunya basah keringat. Dan tidak ada hal dramatis yang terjadi hari ini โ tidak ada penemuan besar, tidak ada momen sinematik, hanya berjalan dan mendengarkan dan sesekali salah arah.
Tapi ada sesuatu yang berbeda dalam dadanya sekarang. Sesuatu yang terasa seperti tanah yang baru mulai subur โ belum berbuah, tapi sudah berubah.
"Iya, Pak," jawabnya. "Besok."
Pak Soma hanya mengangguk, lalu berbalik menuju rumahnya yang hanya dua gang dari sana. Dan Farhan berdiri sebentar di tepi itu โ antara desa dan hutan, antara yang dia tahu dan yang belum โ sebelum melangkah pulang dengan langkah yang sedikit berbeda dari sebelumnya.
Sedikit lebih sabar. Sedikit lebih rendah hati. Dan sedikit lebih siap untuk tidak selalu tahu arah.